Jumat, April 18, 2008

Menikmati Sakit

Sungguh mulia, di saat kita sakit (pisik atau psikis) ringan atau berat kita masih pandai bersyukur kepada Allah sebagaimana kita saat sehat. Tak jarang tatkala kita sakit justru ibadah, kerja dan upaya kita membantu orang lain menurun.

Berbarengan dengan itu pula, kita jadi pemalas, pemarah dan lupa berdzikir kepada-Nya. Di saat inilah sebenarnya iman dan Islam kita diuji Allah. Apakah tatkala sakit kita masih menjadi orang yang sayang kepada istri, anak, tetangga, sahabat kita? Apakah ketika sakit kita tetap mampu beribadah dan bekerja sebagaimana kita sehat?

Sakit sebenarnya sesuatu yang biasa, alamiah. Karena itu tak perlu ditakuti dan dicemaskan. Justru ketika sakit datang, kita harus menyambutnya dengan rasa suka cita. Lewat sakitlah Allah Sang Pencipta sakit berkehendak mendidik kita untuk jadi orang yang lemah lembut, peduli dengan yang lain, banyak berdzikir, hidup sederhana dan selalu siap dengan sakaratul maut.

Allah Swt. sendiri sangat mencintai terhadap hamba-hamba-Nya yang selalu sabar dan tabah dalam derita dan sengsara. Karena mereka yang berani mengalami penderitaan dan kesengasaraan hidup berarti mereka telah siap berjuang dengan sesungguhnya.

Banyak kisah indah yang perlu kita teladani dalam hidup ini ketika mengahadapi derita. Bukankah para Nabi Allah hidup penuh dengan derita pisik dan psikis (mental)? Bukankah mereka yang paling dahsyat mendapat intimidasi dari kaumnya sendiri? Nabi Nuh As dicerca, dicemooh kaumnya, Nabi Ibrahim dibakar oleh raja Namrud dan diusir ayahnya, Azar dan Nabi Muhammad Saw dilempari kotoran, dicerca, dihina dan diusir kaumnya?

Alangkah agungnya para kekasih Allah itu. Kendati mereka mengalami cercaan, hinaan hidup, mereka tetap menjadi manusia yang mulia; bersabar, tetap banyak ibadah, dan selalu berdzikir kepada Allah.

Rasulullah Saw. telah memberi kabar gembira bagi mereka yang tetap sabar dan tabah saat ditimpa sakit, musibah ataupun derita lainnya. Bagi mereka adalah ampunan dari-Nya atas dosa-dosa yang dilakukannya. ?Tidaklah musibah, penyakit, kesengsaraan, kesedihan dan rasa sakit menimpa seorang muslim, bahkan sampai duri yang menusuknya, melainkan dengannya Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya.? Demikian pesan Nabi mulia itu diriwayatkan imam Bukhari dan Muslim.

Dalam al-Qur?an, Allah menggambarkan orang-orang yang bersabar dengan penderitaan sebagai hamba-hamba-Nya yang memperoleh kebajikan. Mereka inilah orang-orang yang benar imanya (karena telah teruji) dan mereka inilah kelompok muttaqien yang sesungguhnya (QS. Al- Baqarah: 177)

Surga itu Tidak Gratis

oleh Akhmadi Sumaryanto

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk jannah (surga), padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa malapateka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata: 'Bilakah datangnya pertolongan Allah.' Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amat dekat." (Al-Baqarah: 214).

Khabbab bin Arat ra, berteriak lantang: "Memang, ia (Muhammad) adalah utusan Allah kepada kita, untuk membebaskan dari kegelapan menuju terang benderang." Sebuah deklarasi keimanan justru saat dakwah Rasulullah baru pada fase sirriyah dan lemah. Pernyataan itu diperdengarkan di depan segerombol kafir Quraisy. Kontan, mereka murka mendengarnya. Khabbab, si pandai besi itu sadar akan resiko yang ia hadapi. Tak ayal, mereka memukuli dan menyiksanya. Ia terhuyung tak sadarkan diri. Tubuhnya bengkak-bengkak. Seluruh tulang persendiannya terasa nyeri. Darah mengalir membasahi pakaian dan tubuhnya.

Ini bukan akhir Khabbab menuai siksaan. Onggokan besi, bahan baku pedang, di rumahnya menjadi senjata makan tuan. Kafir Quroisy mengubahnya menjadi alat siksa yang mengerikan. Mereka masukkan besi ke dalam api hingga merah membara. Dililitkannya besi menyala itu pada kedua tangan dan kaki Khabbab. Sakit tiada terkira. Namun, semua itu tak menjadikan ia bergeming dari keimanan.

Derita Khabbab belum usai. Ummi Anmar, bekas majikannya, turun tangan. Wanita jalang itu menyiksa dan menderanya. Ia mengambil besi panas yang menyala dan meletakkannya di ubun-ubun Khabbab. Ia menggeliat kesakitan. Nafas tetap ditahan agar tak keluar keluhan, karena keluhan hanya akan menjadikan para algojo bersorak-sorak.

Sampai suatu ketika Khabbab datang menghadap Rasulullah saw di bawah naungan Ka'bah. "Wahai Rasulullah! tidakkah Anda memohonkan pertolongan bagi kami? Usul Khabbab. Rasulullah duduk, raut mukanya memerah seraya bersabda: "Dahulu sebelum kalian, ada orang disiksa dengan dikubur hidup-hidup. Ada yang kepalanya digergaji menjadi dua bagian. Ada pula yang kepalanya disisir dengan sikat besi hingga kulit kepalanya terkelupas. Tetapi siksaan-siksaan itu tidak memalingkan mereka dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan mengakhiri persoalan ini, sehingga orang berani berjalan dari Shan'a ke Hadramaut tanpa rasa takut kepada siapa pun selain Allah, walaupun srigala ada di antara hewan gembalaannya, tetapi kalian tampak terburu-buru."

Itulah sepenggal episode kehidupan Khabbab r.a. Pada awal dakwah Islam, penyiksaan bahkan dialami oleh Rasulullah saw sendiri beserta para sahabat yang lain. Mungkin kita bertanya, mengapa Rasulullah saw dan para sahabatnya harus merasakan penyiksaan, sedangkan mereka berada pada pihak yang benar? Mengapa pula Allah Ta'ala tidak melindungi mereka, padahal mereka adalah tentara-tentara Allah, bahkan kekasih-Nya berada ditengah-tengah mereka?

Manusia dicipta bukan tanpa tujuan. Allah bermaksud mencipta manusia untuk beribadah kepada-Nya.

"Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku." (Adz-Dzariyat: 56). Beribadah itulah tujuan utama penciptaan manusia.

Sifat dasar ubudiyah adalah taklif (beban). Dalam Islam, orang yang akil baligh biasa disebut mukallaf, artinya, orang yang dibebani. Dengan demikian ubudiyah mengharuskan adanya taklif, sedang taklif menuntut adanya kesiapan menanggung beban dan perlawanan terhadap hawa nafsu dan syahwat. Taklif tersebut, tersimpul dalam kalimat laailaaha illallah, yang bermakna tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain hanya Allah. Meski kalimat tersebut singkat, namun ia bermakna padat. Ia mengandungi totalitas penetapan (itsbat) atas obyek peribadatan, meliputi tujuan (qasd), niat, pengagungan (ta'dhim), pengharapan (raja'), dan takut (khauf) hanya tertuju kepada Allah semata. Kalimat tersebut juga mengandungi totalitas pengingkaran (nafyu) atas obyek peribadatan kepada selain Allah yang meliputi sesembahan yang diyakini dapat mendatangkan manfaat dan madharat (aalihah), makhluk yang rela diibadahi, diikuti, dan ditaati (taghut), fatwa atau jalan hidup yang menyelisihi Islam (arbaab), dan segala yang dapat memalingkan manusia dari Allah, seperti harta, tempat tinggal, dan keluarga (andaad).

Dengan demikian, berislam memang (seharusnya) menumbuhkan sikap revolusioner. Konsekuensi berislam, adalah tuntutan memenuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, baik menyangkut ubudiyah mahdlah atau ghairu mahdlah. Juga, ubudiyah harus murni hanya kepada Allah. Dus, harus menolak beribadah kepada selain-Nya, baik dari golongan jin maupun manusia. Hal ini tentu membawa potensi ancaman yang beragam, terutama dari unsur-unsur yang diingkari untuk diibadahi, baik dari golongan jin maupun manusia. Di sinilah maksud taklif menuntut adanya kesiapan menanggung beban dan perlawanan.

Jadi, memang sejak semula manusia diciptakan untuk siap menanggung beban, ujian, dan cobaan. Karena jannah yang dijanjikan Allah tidaklah gratis, melainkan harus ditebus dengan berislam, lengkap dengan segala konsekuensi yang harus dipenuhi dan resiko yang harus dihadapi.

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk jannah (surga), padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa malapateka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata: 'Bilakan datangnya pertolongan Allah.' Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amat dekat." (Al-Baqarah: 214).

Lantas apa maksud Allah? bukankah bagi-Nya segala sesuatu mudah jika mengendaki? hanya dengan kalimat kun fayakun(Jadilah! maka akan terjadi), termasuk mudah bagi Allah jika Dia menghendaki Islam tegak di muka bumi, juga mudah bagi-Nya jika mengendaki seluruh manusia memeluk Islam...?

Sengaja Allah tidak membuat semuanya berjalan mulus, Dia bermaksud menguji hamba-hambanya hingga dapat dibuktikan siapa yang mukmin dan siapa yang munafik, siapa yang jujur dan siapa yang dusta? Berislam secara lisan belaka, tanpa ada konsekuensi-konsekuensi tertentu, tentu akan sulit membedakan antara yang sungguh-sungguh dengan yang berpura-pura. Di sinilan relevansi mekanisme ujian dan cobaan bagi seorang hamba.

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: 'Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?' Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sungguh Allah mengetahui orang-orang yang dusta." (Al-Ankabut: 2--3). Wallahu a'lam.

BAHAYA MENINGGALKAN AL QUR'AN

oleh Akhmadi Sumaryanto

Salah satu keutamaan bulan Ramadhon adalah dibulan ini diturunkan mukjijat terbesar yang pernah Allah turunkan kepada Nabi dan RasulNya, yaitu Kitabullah Al Qur’an. Al Qur’an yang mulai diturunkan pada tanggal 17 Ramadhon, pada saat Rasulullah berusia 40 tahun dan dimulai dari Surat Iqra’ (Al Alaq) : 1 – 5 dan diturunkan secara bertahap selama 22 tahun, sampai dengan Surat Al Maidah ayat : 3.

Salah satu ibadah yang utama dilakukan di bulan Rammadhon adalah memperbanyak membaca Al Qur’an, mengkaji dan memahami isinya. Sebagai kitab petunjuk bagi manusia, dan yang memperjelas, maka meninggalkan Al Qur;an sama dengan menyebabkan manusia tersesat.

Al Qur’an merupakan kitab suci dan petunjuk hidup (Hudaan) bagi orang orang yang beriman; akan tetapi banyak diantara kaum muslimin yang belum menjadikan Al Qur’an sebagai pegangan dan petunjuk hidupnya. Hal ini mengakibatkan seorang muslim semakin jauh dari Al Qur’an dan banyak sekali bahaya yang akan mengancam orang-orang yang meninggalkan Al Qur’an.

Bahaya Meninggalkan Al Qur’an

Diantara bahaya-bahaya yang akan mengancam orang-orang yang meninggalkan Al Qur’an antara lain :

  1. Berada dalam Kesesatan yang Nyata (Dhalaalun Mubiin)

Petunjuk yang diturunkan Allah SWT adalah Petunjuk yang jelas kebenarannya. Dinyatakan oleh Allah satu persatu hakikat kebenaran dengan bukti-bukti yang jelas, sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk berpaling, kecuali orang-orang yang ingkar. Inilah yang disebut sebagai kesesatan yang nyata. Allah SWT menerangkan hal ini didalam Surat An Nisaa: 60 yang artinya : “ Tidakkah kamu mengetahui orang-orang yang mengaku beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepada kamu dan (kitab-kitab) yang diturunkan sebelum kamu, mereka hendak berhukum kepada Taghut, padahal mereka disuruh mengingkari taghut tsb. Syaithan menghendaki supaya ia menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya”.

  1. Kehidupan yang Serba Sulit (Ma’iisyatan Dhanka)

Allah SWT telah berjanji bahwa siapa yang berpaling dari ajaran yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW akan menerima balasan dalam kehidupannya. Karena petunjuk selain yang berasal dari Allah SWT. pasti memiliki kekurangan bahkan akan terjadi benturan-benturan kepentingan antarberbagai pihak. Mengenai hal ini, Allah SWT. berfirman dalam surat Thoha: 124 yang artinya: “Siapa yang berpaling dari peringatanKu (Al Qur’an) maka untuknya penghidupan yang sempit kemudian Kami himpunkan dia pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”

  1. Buta hati atau hati yang keras membatu (Qoswatul Qulub)

Petunjuk Al Qur’an adalah basyiroh bagi perjalanan hidup manusia. Siapa yang meninggalkan Al Qur’an maka mata hatinya tidak akan mampu melihat kebenaran Allah walaupun matanya dapat melihat. Allah SWT. berfirman dalam surat Al Hajj: 22 yang artinya: “Tidakkah mereka berjalan di muka bumi supaya mereka mempunyai hati (untuk) memahami atau telinga (untuk) mendengar. Sesungguhnya mereka tidaklah buta mata, tetapi buta hati yang ada dalam dada.” Hati yang jauh dari petunjuk Allah menjadi keras dan sukar untuk menerima kebenaran sehingga disifatkan oleh Allah SWT. lebih keras dari batu. Ada sebagian orang yang mendengarkan Al Qur’an, namun mereka telah terkunci sehingga tidak bisa memahami sama sekali Al Qur’an. Al Qur’an menganggap orang-orang yang menyombongkan diri adalah mereka yang tidak mendengarkan Al Qur’an. Allah SWT. menerangkan dalam surat Al Hadiid: 16 yang artinya: “Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang diturunkan-Nya (Al Qur’an) dan janganlah mereka seperti orang-orang ahli kitab sebelum mereka, kemudian berlalulah masa panjang atas mereka dan antara nabinya, lalu hati mereka menjadi keras dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”

  1. Zhalim dan hina (Zhulmun wa Dzil)

Apabila kita meletakkan sesuatu yang tidak pada tempat yang sepatutnya menurut apa yang dikehendaki Allah berarti kita telah berbuat zhalim dan apabila kita lari dari keadilan yang ditentukan oleh Allah SWT. kepada kita berarti kita telah berbuat zhalim. Ketergantungan kita kepada makhluk akan melahirkan kehinaan dan bila kita bersandar hanya kepada Allah, kita akan mendapatkan kemuliaan. Allah SWT. berfirman dalam Surat Ali Imron: 112, yang artinya; “Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada kecuali jika mereka berpegang kepada tali Allah (Al Qur’an) dan hubungan dengan sesama manusia...” Serta didalam surat As Sajadah ayat 22 yang artinya: “Siapakah yang lebih zhalim dari orang-orang yang diberikan peringatan dengan ayat-ayat Tuhannya (Al Qur’an) kemudian dia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami menyiksa orang-orang yang berdosa.”

  1. Bershahabat dengan Syaithon (Syuhbah As-Syaithon)

Syaithon senantiasa mencari-cari peluang untuk menyesatkan manusia melalui cara apapun. Siapa yang meninggalkan atau melupakan Al Qur’an maka Allah berjanji akan mengadakan baginya Syaithon lalu syaithon itu menjadi shahabatnya. Allah berfirman dalam surat Az-Zukhruf ayat 36 yang artinya: “Barangsiapa yang berpaling dari peringatan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syathon, lalu syaithon itu menjadi temannya.”

  1. Lupa kepada diri sendiri (An Nisyaan)

Hubungan Allah dengan hamba-hambanya begitu dekat. Apabila hamba dekat dengan-Nya maka Allah lebih dekat lagi. Tetapi apabila hamba melupakan Allah, maka Allah akan melupakan hambaNya, bahkan menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Diterangkan oleh Allah SWT. dalam surat Al Hasyr ayat 19: yang artinya:”janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.

Demikianlah bagaimana berbahayanya apabila kita dengan sengaja meninggalkan Al Qur’an. Oleh karena itu mari gunakan kesempatan bulan ramadhan ini yang juga disebut Syahrul Qur’an; untuk menanamkan kembali komitmen kita kepada Al Qur’an dan jadikanlah Al Qur’an sebagai pegangan dan petunjuk hidup, agar terhindar dari bahaya-bahaya tersebut dan dapat selamat selama hidup di dunia dan yang lebih penting lagi selamat di akhirat kelak. Wallaahu’alam.

Kamis, April 17, 2008

PKS-PAN Optimis Menangkan Pilgub Lampung

Rabu, 16 April 2008

Bandarlampung (LampostOnline) - Partai Amanat Nasional (PAN) yang berkoalisi dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) optimis bahwa pasangan yang diusung, akan memenangkan pemilu gubernur (pilgub) Lampung, pasca kemenangan sementara pasangan H Ahmad Heryawan-Dede Yusuf ("Hade") dalam pilgub di Jawa Barat sebelumnya.

"Kemenangan sementara pasangan PKS-PAN dalam pilgub di Jawa Barat itu ternyata membangkitkan motivasi para kader di Lampung untuk memenangkan pemilihan gubernur mendatang," kata Ketua DPW PAN Provinsi Lampung, Abdullah Fadri Auli, di Bandarlampung, Rabu (16-4).

Dalam pilgub Lampung tahun 2008, PKS dan PAN berkoalisi mengusung pasangan Zulkifli Anwar (Bupati Lampung Selatan)-Akhmadi Sumaryanto (anggota DPRD Kabupaten Tanggamus/kader PKS).

Fadri Auli mengatakan, kader-kader PAN dan PKS hingga tingkat ranting sudah meningkatkan konsolidasi untuk memenangkan pasangan yang diusung parpol tersebut.

Konsolidasi ditingkatkan bukan hanya untuk memenangkan pilgub, juga untuk menghadapi pemilu legislatif dan DPD, serta pemilihan presiden dan wakil presiden.

"Kemenangan pasangan 'HADE' di Jawa Barat itu sungguh meningkatkan motivasi kami untuk memenangkan pilgub, pemilu legislatif dan pilpres mendatang," kata dia lagi.

Isu perubahan yang diangkat koalisi PAN dan PKS juga diperkirakan akan efektif untuk memenangkan pilgub di Lampung, mengingat kepala daerah yang sekarang ini dinilai masih sangat sedikit membuat terobosan untuk memperbaiki keadaan masyarakat.

Pilgub Lampung direncanakan antara September atau Oktober 2008, dengan skenario KPUD Lampung bisa berlangsung dalam dua putaran.

Pasangan calon yang telah resmi mendapatkan dukungan parpol dan koalisi parpol adalah M Alzier Dianis Thabranie-Bambang Sudibyo (diusung Partai Golkar dan PPP), Sjachroedin ZP-MS Joko Umar Said (PDIP dan beberapa partai kecil), Oemarsono-Thomas Azis Riska (koalisi partai kecil), dan Zulkifli Anwar-Akhmadi Sumaryanto (PKS-PAN). (Ant)