Jumat, April 18, 2008

BAHAYA MENINGGALKAN AL QUR'AN

oleh Akhmadi Sumaryanto

Salah satu keutamaan bulan Ramadhon adalah dibulan ini diturunkan mukjijat terbesar yang pernah Allah turunkan kepada Nabi dan RasulNya, yaitu Kitabullah Al Qur’an. Al Qur’an yang mulai diturunkan pada tanggal 17 Ramadhon, pada saat Rasulullah berusia 40 tahun dan dimulai dari Surat Iqra’ (Al Alaq) : 1 – 5 dan diturunkan secara bertahap selama 22 tahun, sampai dengan Surat Al Maidah ayat : 3.

Salah satu ibadah yang utama dilakukan di bulan Rammadhon adalah memperbanyak membaca Al Qur’an, mengkaji dan memahami isinya. Sebagai kitab petunjuk bagi manusia, dan yang memperjelas, maka meninggalkan Al Qur;an sama dengan menyebabkan manusia tersesat.

Al Qur’an merupakan kitab suci dan petunjuk hidup (Hudaan) bagi orang orang yang beriman; akan tetapi banyak diantara kaum muslimin yang belum menjadikan Al Qur’an sebagai pegangan dan petunjuk hidupnya. Hal ini mengakibatkan seorang muslim semakin jauh dari Al Qur’an dan banyak sekali bahaya yang akan mengancam orang-orang yang meninggalkan Al Qur’an.

Bahaya Meninggalkan Al Qur’an

Diantara bahaya-bahaya yang akan mengancam orang-orang yang meninggalkan Al Qur’an antara lain :

  1. Berada dalam Kesesatan yang Nyata (Dhalaalun Mubiin)

Petunjuk yang diturunkan Allah SWT adalah Petunjuk yang jelas kebenarannya. Dinyatakan oleh Allah satu persatu hakikat kebenaran dengan bukti-bukti yang jelas, sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk berpaling, kecuali orang-orang yang ingkar. Inilah yang disebut sebagai kesesatan yang nyata. Allah SWT menerangkan hal ini didalam Surat An Nisaa: 60 yang artinya : “ Tidakkah kamu mengetahui orang-orang yang mengaku beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepada kamu dan (kitab-kitab) yang diturunkan sebelum kamu, mereka hendak berhukum kepada Taghut, padahal mereka disuruh mengingkari taghut tsb. Syaithan menghendaki supaya ia menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya”.

  1. Kehidupan yang Serba Sulit (Ma’iisyatan Dhanka)

Allah SWT telah berjanji bahwa siapa yang berpaling dari ajaran yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW akan menerima balasan dalam kehidupannya. Karena petunjuk selain yang berasal dari Allah SWT. pasti memiliki kekurangan bahkan akan terjadi benturan-benturan kepentingan antarberbagai pihak. Mengenai hal ini, Allah SWT. berfirman dalam surat Thoha: 124 yang artinya: “Siapa yang berpaling dari peringatanKu (Al Qur’an) maka untuknya penghidupan yang sempit kemudian Kami himpunkan dia pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”

  1. Buta hati atau hati yang keras membatu (Qoswatul Qulub)

Petunjuk Al Qur’an adalah basyiroh bagi perjalanan hidup manusia. Siapa yang meninggalkan Al Qur’an maka mata hatinya tidak akan mampu melihat kebenaran Allah walaupun matanya dapat melihat. Allah SWT. berfirman dalam surat Al Hajj: 22 yang artinya: “Tidakkah mereka berjalan di muka bumi supaya mereka mempunyai hati (untuk) memahami atau telinga (untuk) mendengar. Sesungguhnya mereka tidaklah buta mata, tetapi buta hati yang ada dalam dada.” Hati yang jauh dari petunjuk Allah menjadi keras dan sukar untuk menerima kebenaran sehingga disifatkan oleh Allah SWT. lebih keras dari batu. Ada sebagian orang yang mendengarkan Al Qur’an, namun mereka telah terkunci sehingga tidak bisa memahami sama sekali Al Qur’an. Al Qur’an menganggap orang-orang yang menyombongkan diri adalah mereka yang tidak mendengarkan Al Qur’an. Allah SWT. menerangkan dalam surat Al Hadiid: 16 yang artinya: “Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang diturunkan-Nya (Al Qur’an) dan janganlah mereka seperti orang-orang ahli kitab sebelum mereka, kemudian berlalulah masa panjang atas mereka dan antara nabinya, lalu hati mereka menjadi keras dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”

  1. Zhalim dan hina (Zhulmun wa Dzil)

Apabila kita meletakkan sesuatu yang tidak pada tempat yang sepatutnya menurut apa yang dikehendaki Allah berarti kita telah berbuat zhalim dan apabila kita lari dari keadilan yang ditentukan oleh Allah SWT. kepada kita berarti kita telah berbuat zhalim. Ketergantungan kita kepada makhluk akan melahirkan kehinaan dan bila kita bersandar hanya kepada Allah, kita akan mendapatkan kemuliaan. Allah SWT. berfirman dalam Surat Ali Imron: 112, yang artinya; “Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada kecuali jika mereka berpegang kepada tali Allah (Al Qur’an) dan hubungan dengan sesama manusia...” Serta didalam surat As Sajadah ayat 22 yang artinya: “Siapakah yang lebih zhalim dari orang-orang yang diberikan peringatan dengan ayat-ayat Tuhannya (Al Qur’an) kemudian dia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami menyiksa orang-orang yang berdosa.”

  1. Bershahabat dengan Syaithon (Syuhbah As-Syaithon)

Syaithon senantiasa mencari-cari peluang untuk menyesatkan manusia melalui cara apapun. Siapa yang meninggalkan atau melupakan Al Qur’an maka Allah berjanji akan mengadakan baginya Syaithon lalu syaithon itu menjadi shahabatnya. Allah berfirman dalam surat Az-Zukhruf ayat 36 yang artinya: “Barangsiapa yang berpaling dari peringatan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syathon, lalu syaithon itu menjadi temannya.”

  1. Lupa kepada diri sendiri (An Nisyaan)

Hubungan Allah dengan hamba-hambanya begitu dekat. Apabila hamba dekat dengan-Nya maka Allah lebih dekat lagi. Tetapi apabila hamba melupakan Allah, maka Allah akan melupakan hambaNya, bahkan menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Diterangkan oleh Allah SWT. dalam surat Al Hasyr ayat 19: yang artinya:”janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.

Demikianlah bagaimana berbahayanya apabila kita dengan sengaja meninggalkan Al Qur’an. Oleh karena itu mari gunakan kesempatan bulan ramadhan ini yang juga disebut Syahrul Qur’an; untuk menanamkan kembali komitmen kita kepada Al Qur’an dan jadikanlah Al Qur’an sebagai pegangan dan petunjuk hidup, agar terhindar dari bahaya-bahaya tersebut dan dapat selamat selama hidup di dunia dan yang lebih penting lagi selamat di akhirat kelak. Wallaahu’alam.

Tidak ada komentar: