Minggu, April 20, 2008

Dalam Rengkuhan Al Qur'an

Abu Talhah, suami Ummu Sulaim, suatu hari membaca Al-Qur'an. Ketika sampai pada surat At-Taubah ayat ke-41 yang berbunyi "infiruu khifafawwatsiqaala" (berangkatlah kamu sekalian dalam keadaan merasa ringan ataupun berat), ia menghentikan bacaannya dan berkata, "Aku tidak berpendapat selain Allah SWT. memerintahkan berangkat ke medan perang baik orang muda maupun sudah tua." Saat itu Abu Thalhah sudah berusia lanjut dan punya anak-anak berusia muda.

"Wahai anak-anakku, tolong siapkan segala perlengkapan perangku!" perintah Abu Thalhah. Mendengar perintah yang serius itu, anak-anak Abu Thalhah yang juga singa-singa Allah itu tersentak. Mereka menilai ayahnya terlalu tua untuk turut berperang. Mereka mencoba menahannya. "Ayah, engkau telah berperang bersama Rasulullah SAW. hingga beliau wafat. Engkau juga turut seta berjihad bersama khalifah Abu Bakar sampai beliau dipanggil Allah SWT. Dan engkau pun tak pernah ketinggalan dalam menegakkan kalimatullah bersama Umar bin Khattab sampai beliau pun meninggalkan kita. Oleh karena itu, sekarang cukuplah kami yang terjun ke medan jihad itu."

Tak terlihat perubahan sikap pada diri Abu Thalhah. Bahkan selanjutnya dia berkata, "Wahai anak-anakku, tolong siapkan perlengkapan perangku. Tidakkah kalian tahu bahwa Allah telah memanggil kita yang muda maupun yang tua dengan firmannya "infiruu khifafaw watsqaalaa'."

Akhirnya, Abu Thalhah pun berangkat. Pertempuran yang ia terjuni kali ini pertempuran laut. Dan beliau mendapat kemuliaan syahadah (mati syahid) di tengah lautan. Setelah perjalanan satu pekan di laut, baru kawan-kawannya menemukan dataran untuk mengebumikan jasad asyahid. Yang luar biasa, sampai saat dikebumikan, tubuhnya tak berubah sedikitpun.

Itulah sosok mu'min yang telah menjadikan Al-Qur'an sebagai panduan hidupnya. Jiwanya, pikirannya, dan seluruh tubuhnya telah benar-benar "dirasuki" kalam ilahi. Orang seperti Abu Thalhah telah menjadi manusia yang hidup di "alam lain". Ia tak lagi terbelenggu dengan jerat-jerat dunia. Ia telah menjadi manusia yang melayang-layang ke angkasa keimanan sehingga selalu siap menerima segalah titah dari Khaliqnya.

Seperti itu pulalah yang dirasakan Asy-Syahid Sayyid Quthb dalam interaksinya dengan Al-Qur'an. Sayyid Quthb, seperti ungkapannya yang dituangkan dalam mukadimah Fii Dzilaalil Qur'an, merasakan hidup di bawah naungan Al-Qur'an benar-benar penuh kenikmatan, keteduhan, kelapangan jiwa serta kemuliaan yang tiada taranya. Ia merasa diangkat oleh Al-Qur'an sedemikian tinggi di atas segala daya tarik dunia dan propaganda-propaganda murahannya. Ia telah diangkat sedemikian tinggi sehingga dapat melihat kedegilan orang-orang yang ingkar kepada Penciptanya. Ia melihat mereka bagaikan orang dewasa yang sedang memperhatikan bocah-bocah ingusan yang sedang bermain-main dengan lumpur. Jika itu yang dirasakan al-ustadz Sayyid Quthb, amat wajarlah jika ia lebih menyukai kematian mulia, syahadah, ketimbang harus menjadi budak penguasa yang zhalim.

Dalam perjalanan sejarahnya, Al-Qur'an berhasil menghidupkan umat-umat yang "mati". Betapa banyak manusia yang berhati sekeras batu, bengis, dan tak berperikemanusiaan, tiba-tiba menjadi manusia yang gampang mengucurkan air mata di hadapan Penciptanya dan menjadi penegak keadilan yang tangguh. Luar biasa memang Al-Qur'an. Maha Besar Allah yang berfirman: "Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur'an) dengan perintah Kami." (QS. Asy-Suura (42) : 52)

Ya, kita juga sekarang bukan tidak pernah membaca Al-Qur'an, namun sudahkah Al-Qur'an benar-benar menjadi ruh bagi kehidupan kita? Sudahkah kita merasa benar-benar diangkat oleh Al-Qur'an sampai ke derajat yang tidak dapat dijangkau oleh manusia biasa? Sudahkah kita terhindar dari rantai-rantai dunia yang membelenggu kita?

MENYIKAPI AL-QUR'AN

Agaknya kita perlu kembali memahami kewajiban kita terhadap Al-Qur'an. Kewajiban-kewajiban itu adalah :

1. TILAWAH

Tilawah (membaca) Al-Qur'an wajib hukumnya. Firman Allah SWT: "Dan bacalah Al-Qur'an secara tartil" (QS. 73:4). Tartil artinya membaca Al-Qur'an dengan tenang (tidak terburu-buru) dan dengan membaca huruf-hurufnya secara jelas. Rasulullah SAW pun bersabda : "Bacalah oleh kalian Al-Qur'an karena ia akan menjadi syafa'at bagi para pembacanya di hari Kiamat." (HR. Muslim, hadits No. 989, hal 414)

Beliau juga memberikan perbandingan antara orang yang rajin membaca Al-Qur'an dengan Muslim yang tidak membaca Al-Qur'an: "Perumpamaan orang mu'min yang membaca Al-Qur'an bagaikan buah utrujjah (sejenis jeruk). Harum baunya, rasanya juga manis. Perumpamaan orang mu'min yang tidak membaca Al-Qur'an bagaikan buah korma. Rasanya manis, tapi tidak berbau harum. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur'an bagaikan buah raihanah. Baunya harum, tapi rasanya pahit. Perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qu'an bagaikan buah handzolah. Baunya busuk, rasanya pun pahit." (Muttagaq 'alaih, hadits No. 993, hal 415).

Fadlilah (keutamaan) membaca Al-Qur'an pun luar biasa. Rasulullah SAW. menjanjikan pahala yang luar biasa dari Allah SAW. Sabdanya: "Barangsiapa yang membaca satu huruf Al-Qur'an, maka dia mendapat satu kebaikan, dan satu kebagikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan aliif laam mim satu huruf, melainkan alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf." (HR. At-Tirmidzi, hadits No. 997, hal. 416)

Sabdanya pula: "Orang yang membaca Al-Qur'an dengan mahir (fasih dan tidak melakukan kesalahan dalam waqaf, dsb.) bersama malaikat yang selalu taat. Dan orang yang membaca Al-Qur'an dengan terbata-bata dan merasa berat mendapat dua pahala." (Muttafaq 'alaih, hadits No. 992, hal. 415).

Memahami hal itu, tak mengherankan jika para sahabat dalam kesehariannya tidak pernah lupa membaca Al-Qur'an. Semangat mereka dalam membaca Al-Qur'an disamping ibadah ibadah yang lainnya begitu hebat. Sampai-sampai seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Amer bin Al-'Ash pernah punya kebiasaan mengkhatamkan Al-Qur'an dalam sehari. Namun hal itu tidak direstui oleh Rasulullah SAW. Beliau memerintahkan agar Abdullah menyelesaikannya dalam satu bulan.

Abdullah berkata, "Ya Rasulullah, aku masih sanggup melakukan yang lebih dari itu." Rasulullah menjawab, " Selesaikanlah dalam dua puluh hari." Abdullah masih minta tambah, "Saya masih bisa menyelesaikanya lebih cepat."

"Selesaikanlah dalam sepuluh hari!" kata Rasulullah SAW. Selanjutnya sampai akhirnya Rasulullah menegaskan, "Selesaikanlah baca Al-Qur'an dalam sepekan dan jangan kurang dari dari itu."

Memang sudah saatnya kita menggulirkan syi'ar "Tiada Hari Tanpa Al-Qur'an". Tidak sedikit Muslimah yang merasa rugi karena satu hari terlewat tanpa baca koran, namun tidak demikian halnya ketika berhari-hari tidak "bersentuhan" dengan Al-Qur'an.

2. TADABBUR

Perlu diingat, Al-Qur'an dibaca bukanlah semata-mata dikejar pahala bacaannya saja. Al-Qur'an hanyalah akan menjadi ruh bagi pembacanya bila disertai dengan tadabbur. Allah berfirman: "Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai akal mendapat pelajaran." (QS. 38: 29)

Firman-Nya pula: "Maka, apakah mereka tidak mentabburi Al-Qur'an? Kalau Sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentunya mereka akan mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya." (QS. 4:82)

Tadabbur adalah upaya menghayati dan memahamikandungan Al-Qur'an. Untuk mentadabburi Al-Qur'an ada beberapa langkah yang harus ditempuh.

Pertama, sebelum mulai membaca Al-Qur'an, bertanyalah di dalam hati: "Apakah jiwa saya bersama Allah ataukah bersama yang lainnya?" Sebab, buila jiwa sedang dikuasai oleh masalah-masalah duniawi, sulit rasanya seseorang menjalin hubungan yang mesra dengan Allah SWT. Kalau jalinan in tidak ada mustahil akan terjadi kontak batin antara dia dnegan Al-Qur'an. Dengan demikian Al-Qur'an baginya hanya merupakan sendandung angin lalu yang tidak meninggalkan bekas 'atsar' sedikitpun dalam dirinya.

Allah menegaskan bahwa seseorang tidak mungkin memiliki keterpautan hati kepada dua hal yang kontradiktif. Firmannya: "Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya." (QS. 33:4)

Kedua, memperhatikan, merenungkan, serta menghayati setiap ungkapan Al-Qur'an yang dibaca. Memang, bila tidak memahai bahasa Arab akan sulit rasanya untuk menghayati ayat Al-Qur'an secara langsung. Namun, tidak adanya penguasaan bahasa Arab janganlah dijadikan penghalang utnuk melakukan tadabbur Al-Qur'an.

Bukankah kita bisa menggunakan terjemahan, misalnya. Ya, habis bagaimana lagi. Kenyataannya tidak cukup banyak Muslim/Muslimah yang menguasai bahasa Al-Qur'an. Lalu, tidak berhakkah mereka menikmati isi Kitabullah ini? Tentu saja kita termasuk kategori in, karena itu kita harus mencari bimbingan dari orang-orang yang berkompentensi dalam bidang tersebut agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam memahami Al-Qur'an ini.

Ketiga, hendaklah kita membaca Al-Qur'an dengan diliputi perasaan bahwa kitalah yang sedang diajak berbicara doleh Allah SWT. Dengan demikian, kita akan benar-benar memasang telinga dan hati untuk menerima segala titah-Nya.

Keempat, memasang akal dan pikiran untuk menangkap isyarat-isyarat yang bersifat kauniyah. Al-qur'an kitab ilmu pengatahuan, Tapi, bukan berarti bahwa segala macam rumus matematika, kimia, ataupun fisika termuat dalam Al-Qur'an. Bukan, Melainkan Al-Qur'an merupakan sumber ilmu pengetahuan dan perangsang tumbuhnya ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tanpa persiapan akal, kita tidak akan dapat mengambil manfaat ayat-ayat yang berbunyai "afala ta'qilum" (apakah kalian menggunakan akal?) dan sejenisnya.

3. MENGHAFAL

Menghafal Al-Qur'an sangat dianjurkan. Bahkan Rasulullan SAW. Mengatakan : "Barangsiapa yang di dalam rongga tubuhnya tidak ada sedikitpun Al-Qur'an, tak ubahnya bagaikan rumah yang bobrok." (HR. At-Tirmidzi, hadits No. 998, hal. 17)

Yang dimaksud dengan tidak ada Al-Qur'an sedikitpun dalam rongga tubuhnya adalah orang yuang tidak memiliki hafalan Al-Qur'an sedikitpun. Ya, paling tidak untuk bekal dia ketika shalat. Insya Allah, jika ketiga hal itu tilawah, tadabbur, dan menghafal Al-Qur'an sudah kita laksanakan, kita akan dapat melaksanakan Al-Qur'an dengan"bashiran", dan penuh kesadaran sehingga kita benar-benar selalu hidup dalam suasana Qur'ani.

Hal lain yang perlu kita ingat, bahwa orang-orang kafir akan selalu bekerja keras untuk menjauhkan umat Islam dari Al-Qur'an dengan tujuan dapat menghancurkan Islam dan mengusasai umatnyu. Sehingga, jangan heran kalau ada pihak-pihak tertentu yang merasa misinya terhambat gara-gara merebaknya belajar membaca Al-Qur'an dengan metode membaca Al-Qur'an Iqra.

Tidak ada komentar: