Sabtu, April 19, 2008

Bahaya Penyakit Dengki

Salah satu sifat yang harus dihindari dalam kita berpuasa adalah menghindari sifat dengki. Dalam hadits Rasulullah, beliau mengingatkan bahwa bisa jadi seorang yang berpuasa hanya dapat lapar dan haus saja, kalau si shoimin tersebut tidak bisa meninggalkan penyakit-penyakit hati diantaranya : dengki. Kedengkian bisa menghancurkan amal seperti api yang menghancurkan kayu bakar.

Definisi Dengki (Hasad)

Muhammad Al Ghazali: “Perasaan tidak senang terhadap orang yang mendapat ni’mat dan sebaliknya yaitu merasa senang melihat orang kehilangan ni’mat.”

Said Hawwa: “Mengharapkan lenyapnya ni’mat dari orang yang di dengki.”

Tercelanya kedengkian

Ketahuilah bahwa kedengkian termasuk buah iri hati, sedangkan iri hati termasuk hasil amarah.

“Adakah mereka merasa iri hati terhadap apa yang telah diberikan oleh Allah kepada mereka dari kurnia-Nya” (QS An-Nisa’:54)

“ Dan janganlah kamu iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain” (QS An Nisa 32)

“Kedengkian memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar” HR Adu Dawud dari Abu Hurairah)

Hakekat Kedengkian

Ketahuilah bahwa tidak ada kedengkian kecuali terhadap ni’mat. Apabila Allah melimpahkan ni’mat kepada saudara anda maka ada dua keadaan :

1. Anda membenci dan menginginkan lenyapnya ni’mat itu disebut kedengkian.

2. Anda tidak menginginkan lenyapnya ni’mat itu, tidak membenci keberadaan dan keberlangsungannya, tetapi anda menginginkan ni’mat yang serupa bagi anda. Ini disebut Ghibthah dan kadang disebut munafasah (persaingan).

Tingkatan Kedengkian

1. Menginginkan lenyapnya ni’mat dari orang lain sekalipun ni’mat itu tidak berpindah kepada dirinya. Hal ini merupakan puncak keburukan.

2. Menginginkan lenyapnya ni’mat dan berpindah kepadanya karena ia sangat menginginkan ni’mat itu. Apa yang dituntutnya adalah ni’mat itu bukan kelenyapannya darinya. Apa yang tidak disukainya adalah dalah hilangnya ni’mat itu, bukan kenikmatan yang dini’mati oleh orang lain itu.

3. Tidak menginginkan ni’mat itu sendiri untuk dirinya tetapi menginginkan ni’mat yang serupa. Jika tidak bisa mendapatkan ni’mat yang serupa maka ia menginginkan lenyapnya ni’mat itu agar tidak muncul perbedaan antar keduanya.

4. Menginginkan ni’mat yang serupa untuk dirinya dan jika tidak bisa mendapatkannya maka ia tidak menginginkan kelenyapannya dari saudaranya.

Sebab-sebab kedengkian dan Munafasah

1. Permusuhan dan Kebencian

2. Ta’azzuz (Rasa keberatan jika seseorang lebih unggul dari dirinya)

3. Kesombongan

4. Ta’ajub (Heran, koq orang lain yang diberikan keni’matan bukan dia)

5. Takut tidak mendapatkan yang diinginkan

6. Cinta kepemimpinan dan mencarai kedudukan untuk dirinya, tanpa mencapai suatu tujuan.

7. Buruknnya jiwa dan kekikirannya untuk berbuat baik kepada hamba-hamba Allah.

Kiat menghindari hasad

1. Ilmu, seperti Allah Maha pemberi Rizki, diberikan kepada siapa yang dikehendakiNya dan dihilangkan dari siapa yang dikehendakiNya

2. Amal seperti menghukum kedengkian dengan kegiatan/aktivitas nyata yang berbeda 180 derajat dari kedengkian yang timbul, misal: Jika kedengkian telah mendorongnya untuk mencela orang, maka ia mewajibkan dirinya untuk memuji dan menyanjungnya, dsb.

3. Menelusuri sebab-sebab kedengkian dan berusaha mengantisipasinya seperti:

a. Kesombongan

b. Egoisme dan

c. Besarnya ambisi terhadap hal yg tidak bermanfaat.

Maroji’:

1. Al Qur’anul Karim, Terjemahan Depag RI.

2. Intisari Ihya Ulumuddin Al-Ghazali; Mensucikan Jiwa, Konsep Tazkiyatunnafs Terpadu, Said Hawwa, Terbitan Robbani Press. Tahun 2000.

3. Akhlaq Seorang Muslim, Muhammad Al Ghazali, Terbitan Wicaksana Semarang. Tahun 1986.

4. Riyadhussholihin II, Salim Bahreisy, PT Al Ma’arif Bandung

Tidak ada komentar: